Jumat, 16 Oktober 2015
Akhir ITU berupa titik
Kita menjalaninya. Takdir yang bernama kita. Akhir kita bakal seperti apa? Entahlah aku hanya bisa menerka-nerka saja. Aku melihat terjalnya jalan kebersamaan aku melihat perpisahan di ujung jalan. Takdir jangan disalahkan dijalani saja sebagaimana mestinya.lalu kenapa air mata masih juga ada?. Tak bisakah diiklaskan saja. Semuanya ya semuanya. Aku kamu dan anak2 itu iklaskan saja. Yang memang harus lepas biarkan lepas. Yang ingin pergi tak perlu ditahan lagi. Bukankah ini semua sekedar laku dalam hidup. Dan bukankah hidup hanya sekali saja. Jangan banyak luka jangan banyak banyak. Kalo memang sudah cukup cukupkan. Smua ini hanya sekedar laku. Kita bukan apa2. Kita tak punya kepemilikan apapun. Dan cinta yang bagaimana yang bisa kita bawa pulang? Tak ada selain cintaNya.
Jumat, 14 Agustus 2015
Senja menanggung rindu
Lab bahasa INI masih kosong. Tak ada penghuni lain hanya aku sendiri. "Sonata in d major" aku putar berulang-ulang. Dari sekian lagu yang takkuketahui siapa penciptanya aku memilihmu. Begitu tenang begitu lengang. Cukup membawaku terhanyut dengan suasana.
Sendirian. Tiba-tiba teringat kamu, teringat IBU yang selalu menghawatirkanku,teringat senda gurau para sahabat teringat semua yang tiba-tiba begitu dekat. Kenapa hidup INI harus ada mati. Kenapa yang mati tak bisa dicari. Rindukupun hanya bisa diangsur lewat mimpi.
Aku yang terakhir.aku yang ditinggalkan. Aku yang menolak melupakan.
09.55 murid segera datang. Lab bahasa kembali beroperasi. Semua yang datang pasti pergi. Dan yang terakhir yang menanggung banyak kerinduan.
Sendirian. Tiba-tiba teringat kamu, teringat IBU yang selalu menghawatirkanku,teringat senda gurau para sahabat teringat semua yang tiba-tiba begitu dekat. Kenapa hidup INI harus ada mati. Kenapa yang mati tak bisa dicari. Rindukupun hanya bisa diangsur lewat mimpi.
Aku yang terakhir.aku yang ditinggalkan. Aku yang menolak melupakan.
09.55 murid segera datang. Lab bahasa kembali beroperasi. Semua yang datang pasti pergi. Dan yang terakhir yang menanggung banyak kerinduan.
Selasa, 11 Agustus 2015
Kadang
Kadang tubuhku INI memang minta untuk di Banting. Sekedar pengingat bahwa aku kuat. Pedang ini perlu ditebaskan lagi hingga berdarah darah agar kembali tajam seperti adanya. Dan sendiriku perlu agar rindu untuk menemukanmu.
Rabu, 10 Juni 2015
Senja sore ini mengingatkanku
Ucapan bisa lebih tajam dari pedang!
Yah seperti itulah kenyataanya bahwa luka sabetan pedang bisa diobati dengan segera sedangkan luka akibat ucapan justru menjadi dendam dan menolak hilang.
Teringat penggalan kisah lama yang masih terasa hingga senja sore ini. aku bertemu orang itu. orang yang banyak bicara namun dia tidak gila. setiap kata yang keluar darinya terasa menusuk-nusuk di dada. sukakah dia berkata-kata yang menyakitkan orang? taukah dia kata-kata nya itu begitu menyakitkan? lupakah dia tentang cara berkata yang menyejukkan jiwa? ataukah dia tak mengetahuinya bahwa kata-kata yang menyakitkan hanya menyuburkan kebencian sedangkan kata yang mendamaikan membuat orang lain tenang. Di usianya yang menjelang senja kata-kata nya tak jua bijaksana. Sudah banyak yang tersakiti hingga hari ini dan entah kapan itu akan berhenti.
Namun senja ini mengingatkanku, mengingatkan untuk belajar tidak jadi sepertimu.
Bahwa lisan/ucapan harus dijaga
Bahwa luka akibat ucapan akan menjadi dendam
Bahwa kata-kata yang menyejukkan lebih dibutuhkan dari pada umpatan.
Bahwa semakin senja kita harus makin bijaksana.
Selamat sore sayang... ayo pulang....
11 juni 2015
Selasa, 19 Mei 2015
Senja Sore bercerita
Teman datang teman
pergi, ada yang seperti sedia kala ada
yang berubah dan lenyap begitu saja. selalu
ada yang baru namun tak selalu membawa rasa yang sama. Seperti senja yang selalu ada namun tiap hari membawa cerita
yang berbeda beda
Sore ini Senja membawaku menjengukmu, seorang teman yang
kukenal dimasa lalu. Seseorang yang menyebut dirinya hantu. Ah aku ingat kita
tak hanya teman kan? kita juga adalah lawan satu sama lain. berlomba meraih
poin saat bermain scramble di irc.
Aku menemukanmu senja ini, kamu masih disana.
dan Kamu masih menunggu orang yang sama.
Teringat kembali masa itu ketika awal-awal aku mulai
memperhatikanmu. Aku melihatmu bermain
dan terus bermain. Dan akupun bermain bersamamu. Aku Menikmati setiap kebersamaan yang terjadi. Namun aku tak pernah bisa mengimbangimu. Sampai
suatu saat aku menemukan serpihan dari dirimu. Serpihan perasaan seorang
perempuan.
Ada setiap alasan dari setiap tindakan. Yah seperti itulah
kehidupan. Dan aku menemukanmu bersama sedikit dunia yang kau bagi kepadaku.
Menunggu….
Aku Sedang menunggu… begitu katamu
Menunggu siapa? Tanyaku
Dia yang selalu ada untukku. Dia off sebentar mau bertugas
ke luar kota katanya.
Sejak kapan? Tanyaku
Entahlah sepertinya kemarin dia bilang begitu ataukah dua minggu yang lalu, aku tak peduli aku akan terus disini menunggunya
Aku yakin dia tak lupa kepadaku
Aku masih disini bersama deret angka-angka yang terpampang jelas bersanding dengan kata.
aku menunggunya kembali….katamu
senyum kecil mengembang dari bibir.
senyum kecil mengembang dari bibir.
Sampai kapan kamu akan menunggu? Tanyaku lagi waktu itu.
'Sampai senja tak lagi jingga'
'Sampai batu tua berubah jadi permata'
=======================================================================
Aku meneguk secangkir teh yang dari tadi menemaniku sambil
melihatmu masih disana.
Masih sama masih Menunggu saja.
Aku ingin menyapamu namun urung.
Ada rasa rindu namun pecah.
Bukan aku yang kau tunggu.
Bukan aku.
Tunggulah lelakimu datang
Karena setiap lanang pasti akan pulang sayang.
ah mungkinkah kamu itu sayang.
ah mungkinkah kamu itu sayang.
Senja sore ini bercerita hantu.
19-5-2015 7 mlm.
Langganan:
Postingan (Atom)